I
Kugauli kamu dalam janji, janji terpatri yang kucoba untuk lunasi, tapi saying harus berakhir dalam sedu yang tk tenampakkan.
Sayangku untukmu mungkin pudar saat ini, namun kutahu aku saying kamu, pedih ini semoga hiang di telan waktu, bersama terbit mentari esok hari dan sinar bumi dengan limpahan kasih.
Putri, datanglah dan temani aku saat-saat penuh dengan segala yang ada.
Memuatku meledak dan hilang dari kesadaran.
Gelap dan terang diantara waktu mejadi tiada beda.
Tertawa dan menganis pun tiada beda
Disaat ini kubenci kesendirian dan merindukan kesendirian.
Mana yang harus mana yang tidak
Nyatanya aku tak mampu
II
Pikiran jernih yang terbentang dan berbicara tentag eksistensi diri, selalu mengabut hingga kadang kita memintaskan jalan dengan menutup segala mata akan sekeliling. Dan kita merasa puas akan hal itu.
Apakah hidup, apakah mati ?
Mungkinkah hidup itu mati dan mati itu hidup ?
Kenapa kita selalu tak puas dan kenapa kita puas ?
Dimana kebenaran bila semua mengaku benar ?
Apakah hidup hanya sebatas kebenaran dan kesalahan ?
Kenapa pula kita terkekang dan terpasung ?
III
Mengalir dan melarut, semua hanya membuatku bertambah bingung.
Ingin rasanya kuhempaskan barang-barang yang ada.
Berteriak sepuas hati, membaut gaduh namun tiada berarti.
Membaca deretan kata dan kalimat tiada yang terpahamkan.
Andai kau disini, memeluk dan menenangkanku