RAMPOK*
May 10, 2008 by iyus
“Aku capek denger kamu marah-marah terus ma, kamu kira aku nggak pernah usaha tah selama ini, kamu kan juga tahu kalo aku keluar pagi dan pulang baru tengah malam ini, juga buat kita, kamu aku , anak kita ..,sudahlah ma.. biarkan aku istirahat dulu”, setelah itu kutinggalkan istriku yang masih saja menggerutu karena aku pulang tidak membawa hasil apa-apa, dan segera aku masuk kamar kami yang sebenarnya tak cukup pantas untuk disebut kamar, dengan ukuran cuma 2×3 dan hanya diiisi oleh seulas kasur yang sudah hampir tipis seakan tak jauh beda dengan tikar. Itupun aku harus berbagi dengan istri dan anakku yang masih bayi.
Aku tak habis pikir, begitu susah sekarang sekedar untuk mencari kerja, bahkan untuk jadi kuli bangunan pun aku akan bersedia, tapi…mengapa itupun tak bisa kudapatkan ?. Ah sudahlah… lebih baik ku pejamkan saja mata ini lagipula aku sudah sangat mengantuk..dan bukankah tadi aku dapat kabar bahwa rojak tadi sedang mencariku, kata teman-teman yang nonkrong diujung gang katanya dia punya pekerjaan untukku kalo aku mau, biarlah besok kutemui rojak dan semoga saja berita itu benar. Kulihat istriku pun mulai memasuki kamar kami yang hanya merupakan salah satu dari dua bagian dari rumah yang kami kontrak, satu untuk kamar satu lagi untuk ruang tamu sekaligus dapur, rumah hehh!?. Terlalu bagus aku menyebutnya, tapi walau bagaimanapun tempat inilah yang melindungi aku dan keluarga dari hujan dan panas walaupun ini bukanlah pula rumah sendiri. hmm rumah ini pun sudah harus dibayar, induk semang sudah bolak-balik menagih, dan terakhir kudengar dari istriku, kalo tidak dibayar bulan ini maka aku harus hengkang dari sini, pindah ! pindah kemana? Uhh.. kemana lagi aku harus mencari uang kalo begini?,
“Liat bang rojak?” Tanyaku pada pengamen yang akupun sebenarnya tidak tahu namanya, tapi aku tahu dia biasa mangkal diterminal Kalideres ini, dan aku yakin dia pasti tahu siapa rojak, bukankah rojak “kepala keaamanan” terminal ini, “tadi gua liat bang rojak di poolnya bis Sadar” jawabnya sambil terus menyetem gitarnya, mencari-cari nada yang pas.
Tanpa banyak omong langsung saja kutinggalkan dia menuju tempat yang ditunjukknya. Dan benar saja kulhat Bang Rojak sedang asyik bermain kartu domino bersama para supir yang sedang istirahat, “Bang..abang mencari saya ?” tanyaku langsung begitu aku sudah tiba diekatnya, “eh elu jo ! iya gua cari elu kemaren, tungguin bentar ya, gua lagi asik nih tanggung bentar lagi selesai”, dan jadilah aku bengong sambil melihat-lihat permainan mereka, dan sepertinya bang rojak menang banyak, karena disekitarnya sudah banyak barang dan uang yang ditumpuk, ada jam tangan, Hp, dan beberapa lembar uang puluhan ribu.
“Udah deh, gua ada urusan, kita selesai aja, ntar kalo lu pada ngak puas dan pengen main lagi kita sambung ntar, nih pada beli makan deh lu pada”, ku lihat bang rojak melemparkan uang lima puluhan ribu pada teman-teman mainnya, walau seprtinya mereka nga’ senang dengan keputusan rojak yang menghentikan permainan begitu saja , tapi mereka memilih diam, dari pada ribut sama rojak mungkin begitu pikir merkeadalam hati , siapa tahu ? dan sambil mengumpulkan barang-barang hasil kemenangannya bang rojak berdiri dan sambil mengibas-ngibaskan celana. “Jo ikut aku” katanya padaku, “kemana bang tanyaku ?” “kamu mau dapat kerja ngak?” “Ya mau bang” jawabku sambil bangun dari duduk dan langsung mengikuti rojak yang sudah terlebih dahulu melangkah pergi dari pool tersebut.
“Lu dulu jadi satpam di Pondok Indahkan?, lu tahu rumah nya si acong bos cape X kan?” tanya bang Rojak sambil jalan, “iya bang, tapi saya kena PHK, kalo rumah bos acong yang di PI saya emang tahu, emang kenapa bang ?” jawabku sambil mengusap keringat diwajah, siang ini jakarta kurasa semakin panas saja, jakarta memang udah nga’ lagi adem, gua kasih tahu sekarang, tapi kalo lu udah tahu, lu gua kasih waktu buat mikir tawaran gua tapi cuma dalam dua hari ini, dan kalo lu udah tahu lu nga’ boleh ngomong kesiapa-siapa ngerti, bahkan ke istri lu juga nga’ boleh, kalo sampai ini bocor!, lu yang gua cari pertama kali ngerti lu,” sambil menatap dengan tajam dan itu membuatku cukup mengkeret ketakutan sekaligus bingung, sebenarnya rojak menawari kerja atau punya maksud lain. walaupun aku nga pernah bikin masalah dengan dia, tapi aku tahu rojak
ngak pernah segan buat membunuh orang, aku juga tahu dia pernah masuk penjara hanya karena menghabisi orang yang tidak dia sukai,
“Bang emangnya ada apa? aku bingung dan tak tahu kemana arah pembicaraan abang dan juga apa hubungannya dengan saya dulu jadi satpam di Pondok indah” tanyaku pelan.” Lu bantu gua ngerampok dirumahnya si acong. Jawab bang rojak sambil menyalakan rokoknya. “Ngerampok bang ?” sahutku refleks, terus terang aja aku kaget setengah mati mendengar jawaban rojak tersebut. “Sssst pelan-pelan monyong !!”, bentak Rojak, “lu mau duit kagak ? gua tahu lu butuh uang buat bayar kontrakan elu,. buat bayar utang-utang elu, buat beli susu buat anak lu, gua kasian ama elu makanya gua ngajak elu. Dan juga karena gua tahu, lu tahu daerah PI makanya gua mau ngajak !. lu pikir-pikir dulu, ingat dua hari dari sekarang, lu ga’ usah mikir yang lain, lu cuman jadi penunjuk jalan dan jadi supir, yang lainnya biar gua yang urus ama teman-teman gua, ingat jo.. jangan ada yang tahu, dan karena lu udah tahu, lu nga’ bisa lari dari ini begitu aja” sambung bang rojak sambil tersenyum sinis, “sekarang nih ambil buat lu beli susu anak lu”, sambil menyerahkan uang seratus ribuan rojak pergi melangkah pergi meninggalkan aku yang masih tidak percaya dengan pendengaranku sendiri, “Ingat tejo dua hari lagi gua tunggu jawaban lu”, teriak Rojak sambil terus melangkahkan kakinya meniti jalan trotoar yang kurasakan seperti panasnya api yang membakar kulit. Dan teriakannya tersebut menyadarkanku bahwa aku memang tidak bermimpi, bahwa rojak mengajakku untuk merampok, dan itu merampok bos acong, orang yang selama ini walau tidak begitu kenal diriku tapi aku tahu dia baik hatinya , buktinya selama aku kerja jadi satpam di PI beberapa waktu lalu, dia selalu memberikan beberapa bungkus rokok dan terkadang juga uang pada kami bila dia lewat dan pas pulang terlalu larut. Tapi yang paling jadi pikiranku, ngerampok ! uh.. berpikir untuk nyopet aja aku nga’ pernah, apalagi jadi seorang perampok !!!.
“Mas dita sakit !! , badannya panas sekali, saya bingung” ujar istriku begitu aku tiba dirumah, langsung saja aku beranjak masuk kekamar kecil kami, dan segera kuberikan bungkusan .yang kubawa Dapat dari mana susu dan uang segini banyak mas?”, tanya istriku sambil menerima bungkusan berisi susu dan uang sisa pembeliannya yang kudapat dari rojak dan segera kuberikan padanya, aku hanya bisa diam, aku masih bingung buat menjawabnya, “mas ! darimana uang segini banyak?” tanya nya lagi, aku tahu istriku pasti heran, karena tidak biasanya aku dapat sebanyak itu sejak aku jadi pengangguran dan hanya bekerja serabutan.
“Mas tidak melakukan hal yang tidak-tidakkan?”, “aku dapat dari temanku, sudah sana segera beri susu dan beli obat, biar kukompres dulu anak kita, setelah itu kita bawa dia ke Rumah sakit”. jawabku sekenanya. Walau bagaimana pun aku tidak bisa bercerita dengan istriku kalau aku berhubungan dengan Rojak, karena dia pasti akan tambah mengira yang tidak-tidak, dan urusan nya bisa bertambah runyam.
“Anak bapak mesti dirawat dirumah sakit”, sakit apa anak saya dok, apa tidak bisa dikasih obat saja dok”, tanya ku kalut, kepala ku langsung berputar-putar pusing mendengar bahwa anakku harus diraawat. “Anak bapak sakit kuning dan ini harus dirawat disini pak, silahkan ini resepnya dan harus segera ditebus ya pak, dan ini segera bapak berikan ke bagian administrasi untuk mendapatkan tempat dizal anak” dokter itu menyodorkan kertas berisi resep dan tempat dimana anakku harus dirawat dan dengan sopan menyilahkan aku pergi dari kamar prakteknya. Aku pun berdiri dan melangkah keluar, “gimana mas?” Tanya istriku muram, “kita pulang saja dulu, kamu tunggu disini biar aku kutebus dulu obat ini”.
Sudah dua hari ini aku tidak kemana-mana, dan istriku pun sudah mulai marah-marah lagi, karena dia tahu uang yang kuberikan kemaren sudah habis dan itu berarti kalau aku tidak keluar , bagaimana kami makan dan dapat dari mana uang untuk membeli obat sikecil padahal obat itu sudah habis dan harus ditebus lagi, dua hari ini pula aku lewati dengan kebingungan yang sangat, karena bagaimana pun aku tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar hukum, tapi aku harus segera mendapatkan uang, sedangkan untuk pinjam aku sudah tidak bisa lagi, aku malu, utangku sudah terlalu banyak dan bukannya harus ditambah lagi namun sudah harus pada dibayar, karena orang-orang yang kupinjam uangnya sudah pada mulai menagih uang mereka, ditambah lagi Dita mesti masuk rumah sakit. Uhhh aku benar-benar pusing dengan keadaan ini, seandainya bisa, aku ingin berlari saja dari keadaan ini pergi jauh.
“Aku ikut bang”, “yah begitu donk, lu jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa, elu cuma menunjukkan denah dan sebagaimanya sekaligus jadi supir kami”, jawab Rojak sambil tersenyum begitu aku temui dia dirumahnya.”Sekarang lu ikut gua ke keteman-teman yang lain, malam ini juga kita kerjain tu orang”. Tapi bang, bisa saya pinjam uang dulu , anak saya sakit, dan mesti dibawa ke rumah sakit, kalau bisa saya pulang dulu dan nanti saya susul, abang kasih tahu saya dimana mesti ketemu”,” yah udah tapi cepat, ini gua kasih peta dimana kita ketemu, ingat jo, jam delapan malam ini elu udah harus disana, dan ini uang untukmu ,cepat sana bawa anakmu ke rumah sakit”. Segera aku pergi dari rumah Rojak dan berlari kerumah, “mah..cepat siap-siap kita kerumah sakit”, tapi mana uangnya mas, “ini” sambil kuserahkan segepok uang yang barusan kudapat dari Rojak, dari mana uang ini mas”, desak istriku “sudahlah ma.. jangan banyak tanya sekarang, ayo kita berangkat, aku sudah ditunggu Bos ku, jadi nanti kamu aku tinggal dirumah sakit ya..” aku terpaksa berbohong, karena istriku pasti tidak akan mau dan mengijinkan kalu dia tahu aku dapat uang itu dari jalan yang sebentar lagi akan kutempuh.
Aku melangkah pelan-pelan keluar dari rumah sakit, ketika kulihat jam dinding dirumah sakit sudah menunjukkan jam 18.30, Tuhan aku bingung, aku harus bagaimana ?” anakku butuh perawatan dan biaya, sedangkan aku tidak punya pekerjaaan apa-apa, apa mesti hal ini aku lakukan, kalau tidak, bagaimana aku menghadapi Rojak, aku merasa dunia sudah berhenti, aku maju, aku menentangmu, namun bila aku mundur, maka Rojak akan mengejar-ngejar aku bahkan mungkin akan membunuhku, bagaimana ini Tuhan, aku bersandar di tiang listrik jalan sambil memandang kelangit, mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan ini.
Aku sudah tidak tahu lagi mesti bagaimana dan tiba-tiba saja, aku tersadar bahwa aku sudah sampai ditempat dimana aku dan Rojak berjanji untuk bertemu. “Jo..sini jo..”, kulihat Rojak disebuah rumah yang cukup jauh dari lingkungan sekitar, aku pun melangkah kesana dan itu berarti aku sudah tidak bisa mundur lagi, bairlah, bukankah Rojak bilang tugasku hanya menjadi penunjuk sekaligus Supir bagi mereka. “Ini tejo, dia yang tahu bagaimana daerah sasaran kita, dia pernah kerja disana”, “Jo ini udin ini, yang ini ini robert dan yang berdiri di sana itu namanya hercules”’ Rojak menunjukkan satu demi satu temannya , aku terus terang saja tidak terlalu perduli , pikiran ku masih kalut dengan semua ini, aku walau bagaimana pun masih ragu. “Baik sekarang kita mulai lanjut Rojak, dan Tejo sekarang lu lihat ini peta daerah PI, lu tunjukkin ke gua dan teman-teman mana daerah-daerah yang rawan buat kita sekaligus lu gambarin tu rumah Acong”, dan banyak lagi yang ditanyakan Rojak serta teman-temannya , aku hanya bisa menjawab seperti apa yang aku tahu , aku benar-benar sudah tidak tahu lagi bagaimana mesti menghindar, aku hanya tahu berfikir bahwa aku harus selamat dan secepatnya menyelesaikan ini, kasihan anak dan istriku yang dirumah sakit.
Setelah persiapan selesai, Rojak pun mengajak kami untuk berangkat, saat itu kulihat jam sudah menunjukkan sekitar jam 01.00 dini hari. Kami memakai mobil colt yang kusupiri, malam semakin larut, Jakarta, kota yang dikenal sebagai kota yang tak pernah mati ini pun terlihat lenggang, apalagi sekarang gemiris datang walaupun tidak terlalu lebat.
“Stop jo ! lu kenapa ? kita udah sampai, Lu tunggu disini, dan jangan kemana-mana, kalau ada apa-apa, ingat kasih kode seperti yang kita sepakati tadi”. Aku hanya bisa diam dan melihat mereka mulai keluar satu persatu dari mobil dengan memakai penutup kepala dan wajah dan perlahan-lahan mereka mengendap-ngendap memasuki rumah tersebut. Kulirik sekilas kerumah itu, dan ternyata Rozak sudah mulai mencongkel jendela , dan tiba-tiba saja, Diam ditempat !, tempat ini sudah dikepung, kudengar terikan yang cukup keras dari halaman rumah dan tiba-tiba saja ditempat tersebut sudah banyak orang-orang yang berpakaian aparat dan preman. Sambil mengepung daerah sekitar rumah Bos Acong, dan aku hanya bisa tersenyum. “maaf Jak, dalam hati aku berkata, aku tidak bisa ikut dalam perampokkan ini, karenanya sebelum aku berangkat ketempat pertemuan tadi, aku sudah menelpon polisi serta Bos Acong, dan membeberkan rencana ini, aku tidak ingin dalam tubuh anakku nanti kemasukkan hal-hal yang berbau haram, aku ambil resiko kalau kau nanti akan dendam padaku, dan bukankah Bos Acong berjanji padaku akan merawat anakku dan memperkerjakan istriku sebagai ucapan terima kasihnya atas laporanku. Biarlah semua kuserahkan pada yang diatas, bila nantinya akupun harus mendekam dipenjara karena hampir pernah jadi seorang perampok.